Isim Fa’il dan Isim Maf’ul
Disusun untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata
Kuliah Bahasa Arab I
Dosen Pengampu: Sofia Ratna Awaliyah
Fitri, M.Pd.I
Disusun oleh:
Nurhasanah
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
CIAMIS JAWA BARAT
2013
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Segala puji
bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang selalu menganugrahkan
nikmat-Nya kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga terlimpah curahkan
kepada nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi seluruh alam,
kepada keluarganya, para sahabatnya dan semoga sampai kepada kita sebagai
umatnya, amin.
Berdasarkan
informasi yang kami peroleh dari berbagai sumber, syukur alhamdulillah kami
dapat menyelesaikan pembuatan makalah tentang “Isim Fa’il dan
Isim Maf’ul “ yang merupakan salah satu tugas mata
kuliah Bahasa Arab I.
Ucapan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini,
semoga menjadi suatu ibadah dan semoga Allah SWT membalasnya dengan sesuatu
yang lebih baik, amin. Kami menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena
itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para
pembaca, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
Ciamis,
April 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULAN
PENDAHULAN
1.
Latar Belakang
2.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu isim fa’il dan isim maf’ul?
2.
Apa saja ketentuan-ketentuan isim fa’il dan isim maf’ul?
3.
Tujuan
1.
Memahami pengertian isim fa’il dan isim maf’ul.
2.
Mengetahui ketentuan-ketentuan isim fa’il dan isim maf’ul.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1. Pengertian Isim Fa’il
Fa’il
ialah isim marfu yang disebutkan terlebih dahulu fi’ilnya. Dan fa’il terbagi
menjadi dua bagian, yaitu fa’il yang dzahir dan fa’il yang mudhmar (tersembunyi).
Maksudnya fa’il ialah isim marfu’ yang disebutkan sesudah fiilnya (fiil yang
merafa’kannya).
Contoh: ja’a jaidun lafadz ja’a, fiil madi dan jaidun
fa’ilnya yang dirafa’kan oleh dhomah. Lafadz jaidun itu dirofa’kan oleh dhamah,
sebab isim mufrad.
Jaa’zaedani = dua zaed itu telah dating.
(lafadz Zaedani menjadi
fa’il yang dirafa’kan dengan alif sebab isim tasniah).
a. Fa’il isim yang dzahir
Fail isim yang dzahir
ialah lafadz yang menunjukan kepada yang disebutnya tanpa ikatan, seperti
lafadz Zaedun dan Rojullun.
b. Fa’il isim yang mudhmar, yaitu :
Lafadz yang menunjukan
kepada pembicara (mutakallim) atau yang diajak secara (mukhatab) atau gaib.
Dhamir mutakalim itu
terbagi dua, yaitu: mutakalim wahdah, seperti lafadz ana(saya) dan mutakallim
berikut teman-temannya, seperti lafadz nahnu(kami/kita) yaitu untuk mu’adzim
nafsah atau untuk mutakalim yang membesarkan dirinya (dalam bahasa Indonesia
seperti, kami)
Contoh dhamir mukhatab,
seperti lafadz: Anta,
anti, antuma, antum dan antuna.
Contoh dhamir yang
ghaib seperti lafadz: huwa,hiya,huma,hum,huna dan
seterusnya.
2. Pengertian Maf’ul
Maf’ul
adalah isim yang di nasabkan yang datang setelah fi’il, contohnya: dorobtu
zaidan.
Maf’ul
terbagi dua:
a. Maf’ul isim dahir, yaitu maf’ul yang
jelas keterangannya seperti di atas.
b. Maf’ul isim dhamir,yaitu isim yang
tersembunyi (tidak nyata).
Pembagian maf’ul terbagi menjadi
tiga bagian:
1. Maf’ul
Bih
Maf’ul Bih adalah isim yang menjadi
sasaran perbuatan (objek)
Contoh : ضربت زيد ا
Maf’ul
bih terbagi atas dua bagian :
a) Dzahir,
yaitu maf’ul bih yang bukan terdiri dari kata ganti contoh : ركبت الفرس
b) Dhamir,
yaitu maf’ul bih yang terdiri dari kata ganti.
Maf’ul
bih yang dhomir ini terbagi menjadi dua :
a) Dhamir
muttashil. Contoh : اكرمني,
اكرمنا
b) Dhamir
muttashil. Contoh : اياي,
اياهما, اياك
Hukum-hukum
maf’ul bih
Yang
asal maf’ul bih diakhirkan dari fi;il dan fa’il,
seperti : وورث سليمان داود
a. Terkadang ia
mendahului fa’il secara :
·
Jaiz (boleh), seperti : ضرب سعرى موسى
·
Wajib, seperti : زات الشجرة نوره . dalam contoh
ini adalah karena fa’il mempunyai dhamir yang kembali kepada maf’ul bih.
b. Terkadang
ia mendahului fi’il dan fa’il dengan hukum :
·
Jaiz, seperti : فريق كدبوا وفريقا يقتلون
·
Wajib, seperti : فاي ايات الله تنكرون . dalam contoh
ini karena isim istifham (اي) harus berada dipermulaan kalam.
c. Ada juga maf’ul
bih yang ‘amilnya tersimpan atau dikira-kira dengan hukum :
·
Jaiz, sepeti kalau ada yang bertanya (مدا نزل ربكم) lalu dijawab (خبر) maka maksudnya adalah (انزل خير)
Maf’ul
maah adalah isim manshub yang dinyatakan untuk menjelaskan dzat yang menyertai
perbuatan pelakunya.
Contoh: جاءالاميروالجيش = pemimpin beserta bala tentaranya telah
datang. Lafazh waljaisyu adalah maful ma’ah, sebab isim yang menyertai
kedatangan pemimpin.
3. Ketentuan isim fa’il
Isim yang di
rafakan
4.
Ketentuan isim maf’ul
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Pengertian
Isim Fa’il
Fa’il
ialah isim marfu yang disebutkan terlebih dahulu fi’ilnya.
2.
Pengertian
Maf’ul
Maf’ul
adalah isim yang di nasabkan yang datang setelah fi’il, contohnya: dorobtu
zaidan.
3.
Ketentuan isim fa’il
4.
Ketentuan isim maf’ul
5.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Moch. 2009. Ilmu
Nahwu. Bandung. Sinar Baru Algensindo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar